Dual Boot Windows-Linux dan Linux-linux

Yang tertarik nyoba Linux tapi ga mau kehilangan Windows,
bisa dicoba nginstall dual-boot. Misal pake Ubuntu, tapi should be fine pake
distro lain semisal Fedora cs, Knoppix cs, Mandriva, dll. Diasumsikan, Windows
n’ Linux diinstall di harddisk yang sama sehingga MBR (Master Boot Record)-nya
cuman satu. Ada 3 skenario dalam instalasi dual-boot :

1. Windows diinstall duluan, lalu Linux diinstall belakangan
Ini cara yang paling gampang, karena secara otomatis boot-loader Linux akan
mendeteksi ada Windows, dan memberikan menu untuk masuk ke dalamnya. Klo pake
Ubuntu, boot-loadernya adalah Grub. Setelah berhasil menginstall Windows dan
Ubuntu, maka Grub akan tampil saat kita booting, dan memberikan pilihan mau
booting ke Ubuntu apa Windows. Simpel, ga butuh setting macem-macem

2. Linux diinstall duluan, baru Windows belakangan
Masalah utama pada skenario ini adalah : Windows mengoverwrite MBR dengan
boot-loadernya ndiri (sehingga Grub-nya Linux mati), tapi Windows ga mau
ngedeteksi adanya Linux (sehingga ga ada pilihan buat booting ke Linux). Jadi
walopun udah nginstall Ubuntu n’ Windows, tapi karena menu untuk masuk Ubuntu ga
ada, jadilah kita cuma bisa booting ke Windows.
Solusinya, kita bakal overwrite lagi MBR dengan Grub. Caranya :
1. Booting menggunakan Rescue Disk / Live CD Linux. Coba cek keterangan di
distro masing-masing. Klo Ubuntu pake aja Live CD-nya
2. Klo udah masuk, jalanin perintah di bawah ini dengan privileges “root”
(tambahkan “sudo” di depan tiap perintah, buat Ubuntu)
* sudo grub //setelah itu akan masuk ke program grub dengan tanda “grub>” di
terminal
o root (hd0,0) // ganti “(hd0,0)” sesuai dengan setting harddisk-mu, yakni
root-nya instalasi Linux. “(hd0,0)” menunjukkan instalasi Linux ada di harddisk
pertama, partisi pertama.
o install (hd0) // ini berarti menginstall Grub ke MBR harddisk pertama,
menggantikan MBR Windows yang rese’
o quit // keluar dari program Grub
* sudo vim /boot/grub/menu.lst // edit file menu.lst dengan editor sembarang
o cari baris pendefinisian Operating System, biasanya di paling bawah file
o tambahin baris sebagai berikut untuk ngedefinisiin Windows :
+ title Mikocop Windossss
+ rootnoverify (hd0,2) // ganti dengan partisi Windows diinstall, contoh ini
berarti di partisi ketiga
+ makeactive
+ chainloader +1
o save aja file-nya
3. restart komputer, terus pastikan Grub sudah bisa booting ke Linux n’ Mikocop
Windosss 🙂

3. Entah mana yang diinstall duluan, pokoknya jadi ga bisa booting!
Kasus ini terjadi misalnya pas nge-repair Windows, ato ngutak-atik partisi
harddisk, ato nambah harddisk baru, dll. Solusinya, mirip seperti yang skenario
ke-2 tadi. Masuk ke Rescue Disk / Live CD, trus pastiin Grub keinstall di MBR,
trus pastiin settingan kayak (hd0,0), (hd0,2)-nya sesuai sama keadaan harddisk
sekarang. Jadi, pastiin dulu skema partisi harddiskmu, misalkan pake program
gparted (buat Ubuntu). Terus, jangan lupa juga buat ngecek file “/etc/fstab” di
Linux, dan pasttin settingannya bener, sesuai partisi-partisi yang ada.
*****
Untuk yang instal semua pake linux
Keuntungan dari instalasi multi-distro tersebut, Anda bisa mempelajari beberapa
jenis distro yang memiliki “sifat” serta “kelakuan” yang berbeda sehingga
pengetahuan Anda tentang Linux akan semakin kaya.

Pembuatan Partisi
Setiap distro Linux membutuhkan setidaknya dua partisi, yaitu / (root) dan swap.
Kebutuhan akan partisi swap sebenarnya bisa diperdebatkan, utamanya apabila Anda
memiliki RAM yang besar (misalnya di atas 512MB). Namun bukan hal yang salah
apabila partisi swap tetap ingin digunakan.

Dalam kondisi minimal, sediakan n+1 partisi dengan n adalah jumlah distro yang
ingin diinstall. Sebagai contoh penulis akan menginstall tiga distro, yaitu
Fedora Core, Ubuntu, dan Slackware. Untuk itu, siapkan minimal empat partisi.
Tiga partisi akan digunakan untuk partisi / bagi setiap distro, dan satu partisi
digunakan sebagai swap. Mengapa partisi swapnya hanya satu? Karena pada satu
kurun waktu hanya satu sistem operasi yang dapat beroperasi. Jadi partisi
swapnya akan digunakan secara bergantian.

Apabila Anda menginginkan pemisahan partisi /home dari partisi /, sebaiknya
partisi untuk /home tersebut juga disediakan sebanyak distro yang ingin
diinstall. Jika diinginkan adanya partisi yang dapat digunakan untuk bertukar
data antardistro, sebaiknya partisi tersebut disediakan tersendiri.

Besarnya setiap partisi juga harus disesuaikan dengan kebutuhan. Partisi untuk
Fedora Core misalnya, jangan sampai terlalu kecil karena jumlah CD instalasi
Fedora Core adalima (bandingkan dengan Ubuntu yang hanya satu). Sebagai contoh,
penulis akan menyediakan lima partisi untuk instalasi Fedora Core, Ubuntu, dan
Slackware. Tiga partisi untuk partisi/setiap distro, satu partisi untuk partisi
swap, dan satu partisi lagi disediakan untuk tukar menukar data antardistro.

Diasumsikan harddisk yang digunakan berukuran 80GB, dan komputer memiliki RAM
512MB. Susunan partisinya seperti pada gambar berikut.

Instalasi Distro Pertama
Katakanlah distro yang diinstall pertama kali adalah Fedora Core. Untuk itu,
buatlah susunan partisi seperti di atas. Namun yang dimount hanyalah /dev/hdal
sebagai /, /dev/hda6 Sebagai swap, dan /dev/hda5 sebagai partisi (untuk sharing
data yang mungkin akan di-mount di /sharing).

Formatlah berbagai partisi tersebut dengan file system yang dikenal oleh seluruh
distro. Namun Anda tidak perlu terlalu cemas karena umumnya hampir semua distro
telah mengenal ext2, ext3, serta reiserfs sebagai file system. Penulis
menyarankan untuk menggunakan ext3 saja, karena file system tersebut bisa
dikatakan sebagai yang paling populer. Saat anaconda (software instalasi Fedora
Core) meminta Anda untuk menginstall GRUB, letakkan GRUB di MBR (dalam hal ini
adalah di /dev/hda).

Instalasi Distro Kedua
Pada saat instalasi distro kedua, sebagian susunan partisi telah digunakan untuk
distro pertama. Misalnya, distro kedua yang diinstall adalah Ubuntu. Untuk itu,
lakukan proses mount hanya terhadap partisi /dev/hda2 untuk / dan /devl hda6
untuk swap. Nantinya partisi untuk sharing data akan dilakukan secara manual.

Jika pada saat instalasi GRUB, installer Ubuntu mengenal adanya distro lain
(Fedora Core) yang telah terinstall dan membuat entri untuk booting ke Fedora
Core, Anda boleh menggantikan GRUB Fedora Core dengan GRUB Ubuntu. Anda tinggal
menginstall GRUB Ubuntu di MBR, maka GRUB yang telah ada di MBR sebelumnya akan
hilang. Namun jika Anda menginginkan untuk tetap menggunakan GRUB milik Fedora
Core, lakukan instalasi GRUB Ubuntu tersebut di partisi / Ubuntu, yaitu di
/dev/hda2.

Instalasi Distro Ketiga
Sama dengan langkah instalasi distro yang kedua, sebagian susunan partisi telah
digunakan untuk distro yang pertama dan kedua. Untuk distro Slackware, lakukan
mount dan format hanya untuk /dev/hda3 sebagai partisi / dan /dev/hda6 sebagai
partisi swap. Partisi untuk sharing dapat dilakukan secara manual.

Sebagai boot loader, secara default Slackware menggunakan LILO. Penulis lebih
memilih untuk menggunakan GRUB, karena itu lakukan instalasi LILO di partisi /
Slackware, dalam hal ini adalah Idev/hda3.

Konfigurasi Akhir
Beberapa konfigurasi akhir harus dilakukan agar nantinya pada menu GRUB akan
muncul ketiga distro yang digunakan.

Mula-mula bootinglah ke distro Fedora Core. Biasanya akan segera timbul masalah,
yaitu partisi swap yang tidak ditemukan oleh Fedora Core. Hal itu terjadi karena
Fedora Core menggunakan nama label dalam merujuk ke partisi swap, bukan posisi
partisinya. Untuk mengatasinya, ada dua solusi yang ditawarkan, yaitu memberi
kembali nama label pada partisi swap, atau menyunting file /etc/fstab Fedora
Core agar merujuk partisi swap pada posisi partisinya, bukan nama swapnya.

Entri pada file /etdfstab yang merujuk pada partisi swap adalah:

LABEL = SWAP-hda6 swap swap defaults 0 0

Dari entri tersebut terlihat bahwa nama label untuk partisi swap adalah
SWAP-hda6. Anda bisa memberi label pada partisi swap dengan perintah berikut:

# mkswap -L SWAP-hda6 /dev/hda6

Cara yang kedua adalah dengan menyunting file /etd fstab tersebut sehingga
partisi swap dirujuk berdasar posisi partisinya, bukan nama labelnya:

/dev/hda6 swap swap defaults 0 0

Nah, masalah pertama telah terselesaikan. Sekarang Anda harus menambah entri
pada GRUB agar nantinya muncul item untuk booting ke Ubuntu dan Slackware. Untuk
melakukan hal tersebut, Anda harus “mengintip” isi konfigurasi GRUB dan LILO
milik Ubuntu dan Slackware. Tentunya partisi / Ubuntu dan partisi / Slackware
harus dimount terlebih dahulu. Ketikkan perintah berikut (Anda bisa mengetikkan
perintah ini secara cepat dalam satu baris):

# cd /mnt; mkdir ubuntu; mkdir slackware; mount -t ext3 /dev/hda 2/mnt/ubuntu;
mount -t ext3; /dev/hda3 /mnt/slackware

Lalu, bukalah file /boot/grub/grub.conf yang terdapat di Fedora Core. Agar aman,
backup file tersebut terlebih dahulu. Isi file /boot/grub/grub.conf tersebut
kira-kira sebagai berikut:

default = 0
timeout = 5
splashimage=(hd0,0)/grub/splash.xpm.gz
# hiddenmenu
title Fedora Core (kernel 2.6.17-1.2157_FC5)
root (hd0,0)
kernel /vmlinuz-2.6.17-1.2157_FC5 ro root= LABEL=/1
rhgb quiet
initrd/initrd-2.6.17-1.2157 FC5.img

Kemudian buka file menu.lst milik Ubuntu yang terdapat di
/mnt/ubuntu/boot/grub/menu.lst. Entri yang menunjukkan informasi booting ke
Ubuntu adalah:

title Ubuntu, kernel 2.6.15-23-386
root (hd0,1)
kernel /boot/vmlinuz-2.6.15-23-386 root=/dev/hdb5
ro quiet splash
initrd /boot/initrd.img-2.6.15-23-386

Setelah itu, salinlah entri tersebut ke file /boot/grub/grub. conf, dan letakkan
di bawah entri Fedora Core. Terakhir, buka file lilo.conf milik Slackware yang
terdapat di /mnt/slackware/etc/lilo.conf. Entri yang menunjukkan informasi
booting ke Slackware adalah:

boot = /dev/hda3 prompt
timeout = 50
vga = 773
image = /boot/vmlinuz
root = /dev/hda3
label = slackware
read-only

Catatan: Informasi tersebut telah disunting dengan tidak menampilkan bagian yang
diberi tanda #. Karena entri pada lilo.conf tidak sama dengan entri pada
grub.conf, Anda harus membuat entri sendiri pada file /boot/grub/grub.conf
dengan nilai-nilai yang disesuaikan dengan entri pada lilo.conf tersebut. Entri
tersebut sebagai berikut:

title Slackware
root (hd0,2)
kernel /boot/vmlinuz root=/dev/hda3 vga=773

Letakkan entri tersebut di bawah entri Fedora Core dan Ubuntu, kemudian simpan
file /boot/grub/grub.conf tersebut, dan reboot komputer Anda. Sekarang pada menu
GRUB telah muncul tiga entri, yaitu Fedora Core, Ubuntu, Ban Slackware.

Sebagai langkah konfigurasi terakhir, pada Ubuntu dan Slackware buatlah
direktori /sharing, dan sunting file /etd fstab dengan menambahkan item berikut:

/dev/hda5 /sharing ext3 defaults 0 0
Sekarang, partisi /dev/hda5 bisa digunakan oleh ketiga distro tersebut sehingga
bisa difungsikan sebagai media untuk tukar-menukar data. Secara garis besar cara
instalasi dan konfigurasi di atas dapat digunakan sebagai panduan untuk
kombinasi distro yang berbeda.

Sincerely
Aris Krishna
Tel : 089681448698
Facebook : http://facebook.com/CacingLPK
E-mail : [email protected]
Web. : http://tekomjarmi.blogspot.com

Author: Aris krisna
Working at PT. Graha Mitra Teguh with proud as Junior Network Administrator and Junior System Administrator. Learning Linux almost everyday just for fill in his empty brain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *